It's all I feel about travelling

Category Archives: Food

Blue Heaven Padang Padang Beach – Eat Pray Love

20130714-001426.jpg

Nuansa Julia Robert dalam Eat Pray Love menjadi icon Blue Heaven. Tempat ini baru 2 bulan opening. Padang Padang Beach memang terkenal dengan keindahan pantainya. Di pantai inilah tempat shooting Eat Pray Love.

Lokasi Blue Heaven sangat strategis untuk menikmati laut dan sunsetnya.
Selain menyediakan makanan dan minuman layaknya cafe, Blue Heaven menyediakan kolam renang dengan cover charge Rp 100rb per orang.
Sepertinya tempat ini juga akan dijadikan wedding venue karena ada chapel room dekat kolam renang.

20130714-002010.jpg

Saya dan keluarga makan siang di sini karena kami menemukan tempat ini tidak sengaja. Beberapa bulan lalu memang tempat ini belum ada. Makanannya enak dan lebih enak lagi bila dinikmati menjelang sunset.

http://www.blueheavenbali.com/


Pirates Bay adalah restaurant yang baru buka di komplek The Bay, Nusadua. Koonsepnya cukup unik, karena kita bisa makan di rumah pohon. Selain rumah pohon ada juga area di atas kapal sehingga terasa suasana bajak lautnya.

Lokasi di kawasan The Bay, Nusadua


Bagi pecinta sunset, kalau bosan dengan pemandangan yang ada di Bali, boleh mencoba di El Kabron daerah Pecatu arah ke Uluwatu di Bali. Restaurant Spanyol di tebing, sebelahan dengan Dream Land Pecatu ini terbilang belum lama buka. Bila ingin ke sini, dari GWK terus aja seperti mau ke Pantai Padang-Padang, nanti di sebelah kanan ada plang besar El Kabron, lalu ikuti jalan. kira-kira 2-3 km. Jalannya kecil, berliku-liku dan bila malam agak kurang penerangan lampu jalan.

Area nya tidak besar, namun sangat santai menikmati sunset di sini. Karena cenderung baru jadi masih nyaman sebagai tempat nongkrong. Makanannya juga enak.

Ini adalah VIP seat (barisan paling depan) untuk menikmati sunset. Dibawahnya adalah tebing tinggi dan kita tidak bisa turun ke pantai dari sini.

Berikut adalah saat-saat menjelang sunset:


Venue:
Chiringuito El Kabron
Jl. Pantai Cemongkak
Pecatu, Bali
Telephone: +62 361 780 3416

(Semua foto saya ambil dari Blackberry, iPhone dan Samsung S3)


Kyoto adalah kota tua yang dahulu merupakan pusat kota Jepang sebelum pindah ke Tokyo, dimana terdapat peninggalan bangunan pemerintahan dan istana tua di sini. Kota Kyoto dikelilingi oleh 3 pegunungan, Higashiyama, Kitayama dan Nishiyama. Udaranya tidak sepanas Tokyo dan Osaka. Kami menemui banyak temple di Utara, Selatan, Barat dan Timur kota ini. Kesan pertama adalah kota ini penuh sejarah dan kebudayaan. Seni memasaknya sangat tinggi, sehingga salah satu tujuan kami ke Kyoto adalah mencoba menu kerajaan.

Kikunoi Maruyama, Kyoto

Saat tiba di depan restoran yang mirip dengan rumah, kami disambut pelayan yang memakai baju tradsional Jepang. Kami dipersilahkan mencopot sepatu dan diarahkan masuk ke ruangan. Saat memberikan pelayanan, mereka selalu duduk lebih rendah dari kita. Saat melayani, mereka duduk bersimpuh dan apabila mereka harus jalan, mereka tidak berdiri tapi jalan sambil jongkok. Sama halnya seperti sikap di keraton, sikap mereka Sangat sopan dan memang beginilah pelayanan kerajaan.

Private Dinner Room

Ruangan antara tamu yang satu dengan yang lain terpisah. Tiap ruangan punya teras dan toilet sendiri. Rumah ini khas Jepang, semua interior dan pernak-perniknya menarik. Di tiap toilet pasti disediakan bakiak atau sandal untuk alasan higienitas.

Ada beberapa restoran sejenis yang menyediakan menu dan layanan ala kerajaan di Kyoto, namun kami dipesankan di Kikunoi 1 bulan sebelumnya. Menu makanannya berbeda-beda tergantung bulan dan musim. Karena ini bulan Agustus, menu yang ada adalah menu summer. Untuk anak kami yang kecil, kami pesan menu bento. Bento dihidangkan langsung. Sedangkan menu dewasa, disediakan satu per satu.

Bento for Kid Menu

Ini adalah menu dewasa, total dari appetizer sampai dessert membutuhkan waktu 2.5 sampai 3 jam.

Menu 1 – Fig poached in white miso, smoked bonito threads

Menu 2 – Assorted of appetisers: myoga (ginger bud) sushi, anago (sea eel) and gobo (burdock root) roll, Kyoto long beans with black sesame dressing, wine-poached red bayberry, spaghetti squash with sesame dressing, hamo (conger eel) and cucumber roll, gingko nuts.




Ada 5 appetizer yang ditaruh didalam kelopak bunga merah itu. Tata dekorasi makanannya sangat indah. Rasanya juga enak.

Menu 3 : Sashimi of tai (red sea bream), seared tachiuo (hair tail), ponzu jelly, lotus root, mizu eggplant, blanched Chinese chives, cucumber curl, wasabi

 

Menu 4 : Sashimi of blanched hamo, shiso blossoms, pickled ume (Japanese apricot) puree

 

Menu 5: Deep fried Kamo eggplant, shrimp dumpling, grilled Takagamine peppers, green onion, grated radish with red pepper


Mangkuk sup dibuat dari keramik yang berbentuk terong.

Menu 6: Salt-grilled ayu (sweetfish), glazed sweet potato, waterpepper vinegar

Sebelum dimasak, ikannya diperlihatkan dahulu ke kami. Ikannya masih hidup dan segar.

Menu 7: Grilled miso-marinated hamo (pike conger eel), steamed glutinous rice, ginger pickled in soy souce

 

Menu 8 : Cold kudzu starch noodles, egg custard, shrimp, Donko shiitake mushroom, cucumber, myoga (ginger bud), shiso blossoms


Makanannya ditaruh dalam pahatan es batu.

Menu 9: Soft shell turtle, red taro stem, taro, ginger


Baru pertama kali saya makan kura-kura. Tadinya hampir saya tidak berani coba, tapi untung saya memberanikan diri, kenyal seperti jelly.

Menu 10: Steam rice, lotus root, edamame beans, myoga ginger, baby sardine, fried tofu skin; Red Manganji pepper soup, seven spice powered; cucumber and eggplant pickled in rice bran



Menu 11: Shaved ice with green tea syrup, azuki beans, rice dumplings

 

Di tengah makan, anak perempuan pemilik Kokunoi menghampiri kami, mencoba berkomunikasi. Dia senang kami suka dan menghabiskan makanan. Bahkan dia takjub, kami makan ikan sampai makan kepalanya. Orang asing jarang berani makan sampai kepala. Dia gak tau, orang Indonesia memang makan ikan sampai kepala, hehehehe.


Foto bersama anak pemilik Kikunoi, ke-3 dari kanan.