Omah Apik – seperti di rumah sendiri

20130711-105641.jpg

20130711-105702.jpg

20130711-105724.jpg

Jauh dari keramaian perkotaan, saya ajak anak-anak berlibur ke Omah Apik, di Pejeng, Ubud.

Menginap ditengah sawah ini adalah hal baru bagi kami yang besar di kota.
Awalnya saya hanya khawatir soal serangga tapi mungkin karena bersih lingkungannya, sehingga kami tidak terganggu dengan serangga apa pun.
Udaranya sejuk dan suasananya membuat kita menjadi rileks. Sayang saat kami di sana, padi baru dipanen. Bila belum dipanen, pemandangan menjadi lebih hijau.

Total kamar sekarang baru 7. Ada 3 kamar di lantai 1 dan 3 kamar di lantai 2. Satu kamar lagi terpisah dengan nuansa rumah panggung. Di depan kamar ada kolam ikan yang airnya mengalir dari sistem pengairan sawah di lingkungan sekitar situ. Di pojok kanan ada bale bengong yang sangat strategis untuk menikmati sunset.

Tingkat hunian Omah Apik yang baru genap berusia 1 tahun ini sangat tinggi terutama oleh wisatawan asing. Untuk booking juga mudah tinggal book via booking.com. Wisatawan lokal hanya 10% saja.

Kami dilayani bak keluarga. Ada kitchen yang bisa dipakai setiap saat. Kita bisa membuat kopi, teh, coklat setiap saat di pondokan yang digunakan untuk ruang makan atau ruang baca.

Karena mendapat informasi bahwa kita bisa minta tour trekking menyusuri sawah, maka saya meminta ditemani oleh salah satu staff Omah Apik. . Kami menyusuri tepian sawah menuju sumber mata air dimana menjadi tempat pemandian penduduk lokal sana.

20130711-110725.jpg

20130711-110824.jpg

Menurut pemandu trekking, di dinding tebing dekat mata air itu ada candi peninggalan jaman Majalahit, seperti bangunan yang terkubur lama dan menyimpan cerita yang belum terkuak.

Sayangnya saat jalan trekking hari sudah sore, sehingga kami tidak bisa lama menikmati suasana pedesaan karena sudah mulai gelap. Waktu terbaik trekking adalah pagi.

Dua malam kami tinggal di Omah Apik dan sangat terkesan dengan keramahan tuan rumah.

Telp Omah Apik 0361944324
Manager Bapak Putu