Kyoto adalah kota tua yang dahulu merupakan pusat kota Jepang sebelum pindah ke Tokyo, dimana terdapat peninggalan bangunan pemerintahan dan istana tua di sini. Kota Kyoto dikelilingi oleh 3 pegunungan, Higashiyama, Kitayama dan Nishiyama. Udaranya tidak sepanas Tokyo dan Osaka. Kami menemui banyak temple di Utara, Selatan, Barat dan Timur kota ini. Kesan pertama adalah kota ini penuh sejarah dan kebudayaan. Seni memasaknya sangat tinggi, sehingga salah satu tujuan kami ke Kyoto adalah mencoba menu kerajaan.

Kikunoi Maruyama, Kyoto

Saat tiba di depan restoran yang mirip dengan rumah, kami disambut pelayan yang memakai baju tradsional Jepang. Kami dipersilahkan mencopot sepatu dan diarahkan masuk ke ruangan. Saat memberikan pelayanan, mereka selalu duduk lebih rendah dari kita. Saat melayani, mereka duduk bersimpuh dan apabila mereka harus jalan, mereka tidak berdiri tapi jalan sambil jongkok. Sama halnya seperti sikap di keraton, sikap mereka Sangat sopan dan memang beginilah pelayanan kerajaan.

Private Dinner Room

Ruangan antara tamu yang satu dengan yang lain terpisah. Tiap ruangan punya teras dan toilet sendiri. Rumah ini khas Jepang, semua interior dan pernak-perniknya menarik. Di tiap toilet pasti disediakan bakiak atau sandal untuk alasan higienitas.

Ada beberapa restoran sejenis yang menyediakan menu dan layanan ala kerajaan di Kyoto, namun kami dipesankan di Kikunoi 1 bulan sebelumnya. Menu makanannya berbeda-beda tergantung bulan dan musim. Karena ini bulan Agustus, menu yang ada adalah menu summer. Untuk anak kami yang kecil, kami pesan menu bento. Bento dihidangkan langsung. Sedangkan menu dewasa, disediakan satu per satu.

Bento for Kid Menu

Ini adalah menu dewasa, total dari appetizer sampai dessert membutuhkan waktu 2.5 sampai 3 jam.

Menu 1 – Fig poached in white miso, smoked bonito threads

Menu 2 – Assorted of appetisers: myoga (ginger bud) sushi, anago (sea eel) and gobo (burdock root) roll, Kyoto long beans with black sesame dressing, wine-poached red bayberry, spaghetti squash with sesame dressing, hamo (conger eel) and cucumber roll, gingko nuts.




Ada 5 appetizer yang ditaruh didalam kelopak bunga merah itu. Tata dekorasi makanannya sangat indah. Rasanya juga enak.

Menu 3 : Sashimi of tai (red sea bream), seared tachiuo (hair tail), ponzu jelly, lotus root, mizu eggplant, blanched Chinese chives, cucumber curl, wasabi

 

Menu 4 : Sashimi of blanched hamo, shiso blossoms, pickled ume (Japanese apricot) puree

 

Menu 5: Deep fried Kamo eggplant, shrimp dumpling, grilled Takagamine peppers, green onion, grated radish with red pepper


Mangkuk sup dibuat dari keramik yang berbentuk terong.

Menu 6: Salt-grilled ayu (sweetfish), glazed sweet potato, waterpepper vinegar

Sebelum dimasak, ikannya diperlihatkan dahulu ke kami. Ikannya masih hidup dan segar.

Menu 7: Grilled miso-marinated hamo (pike conger eel), steamed glutinous rice, ginger pickled in soy souce

 

Menu 8 : Cold kudzu starch noodles, egg custard, shrimp, Donko shiitake mushroom, cucumber, myoga (ginger bud), shiso blossoms


Makanannya ditaruh dalam pahatan es batu.

Menu 9: Soft shell turtle, red taro stem, taro, ginger


Baru pertama kali saya makan kura-kura. Tadinya hampir saya tidak berani coba, tapi untung saya memberanikan diri, kenyal seperti jelly.

Menu 10: Steam rice, lotus root, edamame beans, myoga ginger, baby sardine, fried tofu skin; Red Manganji pepper soup, seven spice powered; cucumber and eggplant pickled in rice bran



Menu 11: Shaved ice with green tea syrup, azuki beans, rice dumplings

 

Di tengah makan, anak perempuan pemilik Kokunoi menghampiri kami, mencoba berkomunikasi. Dia senang kami suka dan menghabiskan makanan. Bahkan dia takjub, kami makan ikan sampai makan kepalanya. Orang asing jarang berani makan sampai kepala. Dia gak tau, orang Indonesia memang makan ikan sampai kepala, hehehehe.


Foto bersama anak pemilik Kikunoi, ke-3 dari kanan.